Nostalgia SMA

 

nostalgia smaBelum lama ini saya bertemu dengan kawan-kawan SMA yang hampir 24 tahun tidak pernah saling jumpa. Selama itu pula, lebih dari sebagian besar diantara kami, benar-benar putus komunikasi. Jangankan ketemu muka, nomor HP saja tidak punya. Melalui jejaring sosial seperti facebook dan twitter akhirnya reuni akbar ini bisa terwujud. Kondisi ini coba saya renungi sejenak, tanpa bermaksud promosi facebook dan twitter, tampaknya jejaring sosial manfaatnya sungguh luar biasa untuk case ini. Coba bayangkan, ± 260 orang dari total siswa 350 orang bertemu kembali setelah hampir setengah abad tidak berkomunikasi. Ck ck ckc…..

Saat bertemu mereka, saya cukup kikuk dan bingung. Banyak sekali wajah sudah tak saling kenal. Maklum setelah sekian lama, wajah kita pasti sudah berubah, berat dan bentuk badan juga berubah, warna kulitpun banyak berubah. Pokoknya secara keseluruhan saya nilai ”Casing” berubah total. Nah terakhir, setelah saya cermati, status sosial/strata sosial kami sangat beragam dan berbeda-beda.

Tampak sebagian dari mereka terlihat biasa-biasa saja, bahkan ada yang kurang beruntung dalam mengarungi hidup ini. Tapi sebagian lagi, mereka tampak benar-benar sudah ”jadi orang”. Buat saya mudah sekali untuk menilainya. Secara kasat mata, pakaian yang dikenakan terlihat ber-merk. Belum lagi telepon genggamnya, perhiasannya, jam tangannya, gaya bicaranya, dan terakhir mobil yang dikendarainya. Ya ampun, luar biasa…

Dari reunian SMA itu sayapun akhirnya menjumpai setidaknya 3 kawan yang saya tahu bagaimana mereka dulu. Mereka saat ini telah menginspirasi saya dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Sebut saja mereka bernama Irawati, Didiet dan Sukari.

Irawati, dia saat ini menjadi seorang Notaris dan PPAT di wilayah Jakarta Selatan yang cukup sukses. Badannya terlihat ”subur” dan ”makmur”. Dari pertemuan dengannya, saya mencoba mengingat Ira di masa SMA. Ira adalah kawan saya yang sejak SMA terlihat kutu buku khususnya untuk hal-hal non eksakta. Dia cerdas tapi tidak suka dengan matematika. Untuk semua pelajaran hafalan, dia jagonya. Sejak dulu dia tukang ngemil dan gak suka olah raga. Sayapun berkesimpulan, profesi dan ke-subur-an badannya memang merefleksikan dirinya dulu waktu SMA.

Didiet. Dari kartu namanya, Didiet adalah pemilik sebuah Production House dan Event Organizer yang cukup punya nama di Jakarta. Pakaiannya rada cuek, tapi terlihat perlente dan dia datang membawa moge (motor gede). Lalu bagaimana Didier waktu SMA? Semenjak SMA, dia termasuk siswa yang tidak terlalu pintar. Rata-rata saja, yang penting naik kelas lah. Tapi dia punya talenta dan semangat yang luar biasa hebat. Jika ditugasi untuk event sejenis Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni), fetival band, dsb., Didiet selalu membawa sukses.

Bagaimana dengan Sukari?

Agak berat untuk diceritakan, namun inilah sebuah pelajaran berharga untuk saya. Saat reuni berlangsung, Sukari berada di parkiran mobil dan motor. Penampilannya sangat lusuh. Matanya sembab. Tanpa sungkan, dia tega ”palak” kawan SMA nya yang membawa mobil rada kinclong. Mengapa begitu kontras kondisi ini? Sukari adalah kawan saya sekaligus kakak kelas 3 tahun di atas saya, namun lulus SMA bersama-sama saya. Sewaktu sekolah, tidak jarang dia berada di halte bus hanya untuk meminta rokok atau memalak anak-anak SMP yang lewat. Ini memang sudah suratan yang dia buat sendiri. Diapun sekarang berprofesi sebagai preman di daerah Pasar Cengkareng. Tragis memang.

Dari kejadian itu sayapun mendapat 2 pelajaran berharga :

  • Bagaimana kita hari ini, merupakan cerminan kita di hari-hari kemarin. Segala sesuatu tidak ada yang instan, semua harus diupayakan.
  • Tugas kita bukanlah mencari rejeki, tugas kita adalah menata diri agar Tuhan melihat diri kita sebagai orang yang pantas untuk diberi rejeki.

Mari menata diri, agar kita pantas mendapatkan rejeki. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment